BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar belakang
Dalam sebuah
karangan ilmiah tidak
mungkin baik bila
paragraf-paragraf
penyusunnya tidak baik.
Sama halnya dengan
paragraf, tidak mungkin menjadi
paragraf yang baik bila kalimat-kalimat penyusunnya juga tidak baik. Demikian
juga dengan kalimat, tidak mungkin diperoleh kalimat yang baik bila kata-kata
penyusunnya tidak tepat dan tidak sesuai.Oleh karena itu,dalam makalah ini akan
membahas tentang penalaran dalam penulisan karya ilmiah dan pengembangan
paragraph dalam penulisan karya ilmiah.Materi penalaran
dan pengembangan paragraph
ini dimanfaatkan ketika penulis
karya ilmiah sedang
melaksanakan pengembangan paragraph dan penyusunan draf karya
ilmiah.Materi ini akan menuntut
penulis karya ilmiah
mengembangkan gagasan secara runtut,sistematis,dan bernalar
sehingga gagasannya mudah dipahami.
Kalimat
utama atau disebut juga kalimat topik merupakan kalimat pokok atau gambaran
umum tentang ide yang ingin di sampaikan. Sedangkan kalimat penjelas merupakan
gambaran rinci dari ide yang akan di sampaikan. Dengan kata lain kalimt
penjelas menguraikan ataupun menerangkan pikiran utama yang terdapat pada
kalimat topik. Misalnya, kita ingin membahas masalah bola. Maka kalimat utama
paragraf tersebut merupakan gambaran umum tentang bola, sedangkan kalimat
penjelasnya bisa berupa gambaran khusus tentang bola tersebut.
Paragraf
ialah suatu kumpulan dari kesatuan pikiran yang kedudukannya lebih tinggi serta
lebih luas dari pada kalimat. Atau dapat diartikan pula paragraf adalah bagian
dari sebuah karangan yang terdiri dari beberapa kalimat, yang berisiskan
tentang informasi dari penulis untuk pembaca dengan pikiran utama sebagai
pusatnya dan juga pikiran penjelas sebagai pendukungnya. Paragraf terdiri dari
beberapa kalimat yang berhubungan antara satu dengan yang lain dalam suatu
rangkaian yang mengahasilkan sebuah informasi. Paragarf juga dapat disebut
sebagai penuangan ide dari penulis melalui beberapa kalimat yang berkaitan dan
memiliki satu tema. Paragraf juga dapat disebut sebagai karangan yang singkat.Penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera
(pengamatan empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian.
Berdasarkan pengamatan yang sejenis juga akan terbentuk proposisi – proposisi
yang sejenis, berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap
benar, orang menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak
diketahui. Proses inilah yang disebut menalar.
B.
Rumusan Masalah
1. Apakah pengertian paragraf?
2. Apakah ciri-ciri paragraf
3. Apakah jenis-jenis paragraf
4. Apakah fungsi paragraf?
5. Apakah unsur-unsur paragraf
6 Bagaimana paragraf yang baik
dan benar?
7. Apakah syarat-syarat paragraf?
8. Apakah pengertian penalaran?
9. Apakah macam-macam penalaran?
10. Bagamanakah metode penalaran?
C.
Tujuan
Tujuan adanya makalah ini adalah untuk memenuhi tugas
Bahasa Indonesia dan untuk menambah khazanah keilmuan para pembaca, maka dengan
adanya makalah ini kita bisa mengetahui tentang cara penulisan paragraf dan
menerapkan pola penalaran deduktif dan induktif.
D.
Manfaat
1.
Mengurangi
kesalahan dalam penulisan paragraf
2.
Tahu
banyak tentang paragraf dan penalaran dengan baik sesuai dengan kaidah yang
berlaku
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Paragraf
Paragraf
ialah suatu kumpulan dari kesatuan pikiran yang kedudukannya lebih tinggi serta
lebih luas dari pada kalimat. Atau dapat diartikan pula paragraf adalah bagian
dari sebuah karangan yang terdiri dari beberapa kalimat, yang berisiskan
tentang informasi dari penulis untuk pembaca dengan pikiran utama sebagai
pusatnya dan juga pikiran penjelas sebagai pendukungnya. Paragraf terdiri dari
beberapa kalimat yang berhubungan antara satu dengan yang lain dalam suatu
rangkaian yang mengahasilkan sebuah informasi. Paragarf juga dapat disebut
sebagai penuangan ide dari penulis melalui beberapa kalimat yang berkaitan dan
memiliki satu tema. Paragraf juga dapat disebut sebagai karangan yang singkat.
Pengertian paragraf menurut para Ahli sebagai berikut
Pengertian paragraf dalam kamus Cambridge bahwa paragraf adalah bagian kecil dari artikel yang tersusun
sedikitnya satu kalimat dan diawali pada garis atau alinea baru (a short
part of a text, consisting of at least one sentence and beginning on a new
line). Umumnya tersusun atas satu kejadian, satu peristiwa, satu
deskripsi ataupun satu ide pokok (It usually deals with a single event,
description, idea, etc).
Pengertian paragraf menurut
Scott and Denny’s (1909) bahwa
pengertian paragraf adalah sebuah unit wacana (diskursus) yang mengembangkan
satu ide atau gagasan pokok (A paragraph is a unit of discourse developing a
single idea). Paragraf tersusun atas satu atau sekelompok kalimat yang saling
berhubungan satu sama lain dan dengan ide pokok yang ada (It
consists of a group or series of sentences closely related to one another and
to the thought expressed by the whole group or series). Paragraf
dikhususkan, seperti kalimat, untuk mengembangkan satu topik atau ide pokok
atau gagasan utama (Devoted, like the sentence, to the development
of one topic)
B. Ciri – Ciri Paragraf
Adapun ciri-ciri paragraf sebagai berikut:
1. Kalimat pada baris pertama terletak agak dalam. Yakni,
dengan jarak lima ketukan spasi untuk jenis karangan yang biasa. Untuk kalimat
pada baris selanjutnya biasanya lebi maju dari kalimat pad abaris pertama.
- Paragraf memiliki dua jenis kalimat. Yakni, kalimat utama dan kalimat
penjelas.
- Sebuah paragraf biasanya memakai satu kalimat utama dan beberapa
kalimat penjelas.
Kalimat
utama atau disebut juga kalimat topik merupakan kalimat pokok atau gambaran
umum tentang ide yang ingin di sampaikan. Sedangkan kalimat penjelas merupakan
gambaran rinci dari ide yang akan di sampaikan. Dengan kata lain kalimt
penjelas menguraikan ataupun menerangkan pikiran utama yang terdapat pada kalimat
topik. Misalnya, kita ingin membahas masalah bola. Maka kalimat utama paragraf
tersebut merupakan gambaran umum tentang bola, sedangkan kalimat penjelasnya
bisa berupa gambaran khusus tentang bola tersebut.
C. Jenis – Jenis Paragraf
Dengan ciri-ciri paragraf yang telah
disebutkan di atas, kita dapat memahami bagai mana dentuk sebuah paragraf itu.
Selanjutnya akan kita bahas tentang jenis-jenis dari paragraf. Adapun jenisnya
sebagai berikut:
Paragraf
berdasarkan jenis ceritanya yakni:
1.
Paragraf
Narasi
Paragraf
Narasi merupakan paragraf yang menceritakan suatu kejadian berdasarkan urutan
waktunya. Paragraf narasi terdiri dua jenis yakni narasi kejadian dan narasi
runtut cerita. Paragraf narasi kejadian merupakan paragraf yang menceritakan
suatu kejadian. Sedangkan paragraf narasi runtut cerita yaitu paragraf yang
pola pengembangannya dimulai dengan sebuah tindakan yang menghasilkan sesuatu
berlanjut ketahap berikutnya hingga tahap ahir dari cerita.
2.
Paragraf
Eksposisi
Paragraf
Eksposisi merupakan paragraf yang bertujuan untuk memaparkan, menyampaikan
informasi, menjelaskan dan juga menerangkan suatu topik kepada orang
lain. Tujuan paragraf eksposisi ialah untuk memberikan informasi kepada
oarang lain. Untuk memahami paragraf eksposisi kita harus mengana lisis dan
juga menghubungkan dengan pengetahuan yang kita miliki.
3.
Paragraf
Agumentasi
Paragraf
Agumentasi merupakan paragraf yang diguakan untuk mengungkapkan ide, gagasan,
ataupun pendapat penulis yang disertai bukti dan juga fakta (yang benar
terjadi). Paragraf argumentasi bertujuan untuk meyakinkan orang lain bahwa ide,
gagasan, dan pendapat tersebut adalah benar adanya dan terbukti nyata.
4. Paragraf persuasi
Paragraf
persuasi merupakan paragraf yang mempunyai tujuan untuk membujuk orang lain
supaya melakuan sesuatu yang di inginkan oleh penulisnya. Agar tujuan tersebut
bisa tercapai, penulis harus bisa pembaca percaya dengan disertai pembuktian
yang nyata.
Paragraf
berdasarkan letak dari pikiran utamanya:
1.
Paragraf
deduktif
Paragraf
deduktif merupakan paragraf yang kalimat utamanya terlatak di awal paragraf.
Dan untuk kalimat penjelasnya diletakkan setelah kalimat utama.
2.
Paragraf
induktif
Paragraf
induktif merupakan paragraf yang kalimat utamanya terletak diakhir paragraph.
Dan kalimat penjelsanya diletakan sebelum kalimat utama.
3. Paragraf campuran (deduktifinduktif)
Paragraf campuran (deduktifinduktif) merupakan
paragraf yang kalimat utamanya terletak di awal dan akhir paragraf. Sedangkan
kalimat penjelasnya berada di tengah-tengah paragraf.
D. Fungsi Paragraf
Adapun fungsi dari pagraf sendiri adalah :
1. Mengekspresikan gagasan yang tertulis
Maksudnya
mengekspresikan gagasan disisni ialah memberikan bentuk suatu pikiran dan juga
perasaan ke dalam rangkaian kalimat yang tersusun sehingga membentuk suatu kesatuan.
2. Untuk menandai peralihan gagasan baru
Maksudnya
sebuah karangan yang terdiri beberapa paragraf memiliki beberapa ide atau
gagasan. Dan ide atau gagasan tersebuat teletad di masing masing paragraf.
Sehingga jika kita membuat paragraf baru maka kita juga membuat gagasan baru.
3.
Untuk
memudahkan menulis dan pembaca
Yakni
memudahkan penulis dalam menyusun gagasannya. Dan untuk memudahkan pembaca
dalam memahami gagasan dari penulis.
4.
Memudahkan
pengembangan topik
Yakni
dalam mengembangkan topik sebuah karangan ke dalam bentuk pemikiran yang
lebih kecil.
5. Untuk memudahkan pengendalian variable
E.
Unsur Unsur Paragraf
Sebuah paragraf dapat dikatakan sebagai
paragraf yang baik bila memiliki unsur unsur paragraf. Secara umum terdapat
tiga unsur unsur paragraf yaitu ide pokok atau gagasan utama paragraf, kalimat
utama paragraf dan terakhir kalimat penjelas paragraf.
Berikut penjelasan singkat tentang unsur unsur paragraf:
1. Ide Pokok
Ide pokok dalam paragraf adalah
hal yang dibahas dalam sebuah paragraf atau yang menjadi dasar dalam pembuatan
paragraf tersebut. Lebih simpelnya, ide pokok dalam paragraf harusnya dimulai
dengan pertanyaan sebelumnya kepada penulis yaitu “Apa yang ingin saya
sampaikan dalam bagian ini” dan “Apakah kalimat yang saya miliki cukup untuk menggambarkan
ataupun menjelaskan apa yang saya ingin sampaikan”.
Sebuah ide pokok dalam paragraf
dapat ada secara tersurat ataupun tersirat, tergantung keinginan anda atau
kebutuhan anda terhadap artikel tersebut. Apabila anda yakin pembaca dapat
lebih merasakan kekuatan atau memahami paragraf atau artikel anda dengan
membuat ide pokoknya tersirat maka buat ide pokok tersebut tersirat. Namun,
bila anda merasa pembaca dan ide pokok ini lebih baiknya dibuat tersurat
sehingga mudah memahaminya, maka buatlah paragraf yang ide pokoknya tersurat
atau tertulis langsung dalam paragraf tersebut.
Contoh penempatan ide pokok
baik tersirat ataupun tersurat dalam sebuah paragraf adalah sebagai berikut:
a.
Untuk menjaga agar subsidi
listrik tetap Rp.30 Trilliun sesuai amanat APBN, pemerintah berencana
memperluas penerapan TDL nonsubsidi kepada pelanggan bisnis dan rumah tangga
hingga ke golongan 1.300 VA. Peluasan tDL nonsubsidi tersebut akan diberlakukan
mulai September tahun ini. TDL nonsubsidi saat ini berlaku untuk konsumen
golongan 6.600 VA ke atas. TDL nonsubsidi dikenakan pada 20 persen penggunaan
diatas rata rata patokan nasional. Konsumen golongan 450 VA hingga 900 VA
diusahakan tidak dikenakan TDL.
b.
Setiap hari, Bolas bangun
pagi pukul setengah lima. Setelah salat subuh, ia lari pagi di sekitar
kampusnya hingga 20 puluh menit. Setelah berolahraga dan keringatnya
kering, Bolas mandi. Selanjutnya, Bolas berangkat ke kampus setelah
sarapan pagi. Pukul 4 sore, ia kembali ke rumahnya. Sisa waktunya sebagian
besar diisi dengan main DOTA. Sebagai selingan Bolas belajar dan menyusun tugas
akhirnya.
Ide pokok yang terdapat dalam
paragraf pertama berbentuk tersurat yaitu rencana penerapan tarif dasar listrik
sedangkan ide pokok paragaraf kedua berbentuk tersirat dengan ide pokok yaitu
kegiatan Bolas sehari hari. Kesimpulannya. Ide pokok dalam sebuah paragraf
adalah intisari dari paragraf atau kelompok kalimat tersebut dan umumnya sebuah
ide pokok berbentuk frasa.
2. Kalimat Utama Paragraf
Unsur paragraf yang kedua
adalah kalimat utama. Dalam sebuah paragraf terdapat kalimat utama yang
berisikan ide pokok atau gagasan utama paragraf tersebut. Lalu apakah ada
paragraf yang tidak memiliki kalimat utama? jawabannya ya ada. Sebuah paragraf
dapat memiliki ide pokok tanpa adanya kalimat utama contohnya saja ide pokoknya
tersirat.
Kalimat utama sebagai unsur
paragraf mengindikasikan sebuah paragraf yang baik dalam sebuah teks ataupun
artikel. Dengan adanya unsur paragraf ini, maka terdapat tiga jenis
paragraf berdasarkan letak kalimat utamanya yaitu (1)paragraf induktif yang memiliki kalimat utama terletak di akhir paragraf; (2) paragraf deduktif yang terletak di awal paragraf dan (3) terakhir paragraf deduktif-induktif yang memiliki kalimat utama di awal dan akhir paragraf.
Lalu bagaimana cara mudah untuk
mengetahui jenis paragraf berdasarkan kalimat utamanya ini? Mudah. Bila sebuah
paragraf diawali dengan kalimat yang umum kemudian kalimat setelahnya lebih
spesifik maka ini merupakan paragraf deduktif. Sedangkan bila paragraf induktif
maka awal paragraf akan terlihat detail dan pada akhir paragraf terdapat
simpulan dari kalimat kalimat sebelumnya maka ini merupakan jenis paragraf
induktif. Lalu bagaimana dengan paragraf induktif-deduktif? Paragraf ini
memiliki kalimat utama di awal dan diakhir paragraf. Akan terdapat kalimat
utama di awal paragraf dan kemudian di akhir paragraf akan terdapat kalimat
utama lagi yang memiliki makna sama dengan awal paragraf walaupun berbeda
bentuk kalimatnya.
Oh iya, sebagai
tambahan….sebuah kalimat utama dalam paragraf dapat berbentuk kalimat majemuk
ataupun kalimat tunggal.
3. Kalimat Penjelas Paragraf
Unsur ketiga dalam sebuah
paragraf adalah kalimat penjelas. Pengertian kalimat penjelas adalah kalimat
kalimat yang menjelaskan kalimat utama. Kalimat kalimat penjelas dalam sebuah
paragraf seharusnya memiliki kesatuan antara satu dengan yang lain yaitu
seluruh kalimat tersebut dapat menyusun sebuah paragraf secara bersama sama
menyatakan ide pokok yang diusung.
Unsur kalimat penjelas dalam
sebuah paragraf atau seluruh paragraf seharusnya koheren yaitu mempunyai
hubungan yang erat sehingga paragraf tersebut utuh. Dalam membentuk koherensi
paragraf, dapat dibantu menggunakan kata penghubung ataupun kata acuan yang
tepat.
F. Membuat paragraf yang baik dan
benar
Menurut Rosen dan Behrens bahwa sebuah paragraf
yang baik dan benar haruslah memenuhi syarat syarat berikut dalam penulisannya
yaitu:
- Unified atau satu kesatuan. Seluruh
kalimat yang menjadi penyusun paragraf haruslah berhubungan dengan ide
atau gagasan pokok yang dimaksud.
- Clearly related to the thesis,
berhubungan dengan apa yang dimaksud: Seluruh kalimat yang ada dalam
paragraf tersebut tidak boleh keluar dari ide pokok yang ada atau dengan
kata lain harus selalu berhubungan.
- Coherent, koherensi: Susunan kalimat yang
berada dalam paragraf haruslah tersusun secara logis
- Well developed: Setiap ide yang
dipaparkan dalam paragraf haruslah dijelaskan dengan baik dengan didukung
oleh kalimat kalimat penjelas yang saling bekerja sama dalam menjelaskan
ide pokok yang dimaksud.
Kemudian Lois
Laase dan Joan Clemmons memberikan beberapa poin penting untuk membuat
sebuah paragraf yang baik yaitu:
1.
Memiliki
satu topik atau ide pokok
- Memiliki kalimat utama
- Mempunyai kalimat penjelas atau kalimat
pendukung yang memberikan fakta atau penjelasan tentang ide pokok atau
gagasan utama tersebut.
- Mempunyai kata kata yang jelas (Kecuali
tujuan sastra)
- Tidak terlalu banyak menggunakan kalimat
/ Tidak boros kalimat
- Menggunakan kalimat atau gabungan kalimat
yang logis dan tetap pada topik yang dimaksud.
- Antara satu paragraf dan paragraf lain
dihubungkan dengan kata penghubung sehingga tercipta koherensi.
- Paragraf yang benar secara ejaan dalam
penggunaan kata kata pada tiap kalimatnya, tanda bacanya atau punctuation,
huruf besarnya dan juga indentasinya.
G. Syarat-Syarat Paragraf
Syarat-Syarat Paragraf yang Baik - Paragraf adalah
kumpulan kalimat yang saling berangkai nan padu yang membentuk suatu gagasan
utama yang ingin disampaikan oleh pembacanya. Suatu paragraf yang baik harus
mencakup beberapa persyaratan sebagai berikut:
1.
Kelengkapan
(Completeness)
Paragraf yang baik harus memiliki unsur – unsur
paragraf yang lengkap diantaranya adalah:
,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,
a. Gagasan utama
Gagasan utama adalah topik utama atau permasalahan yang
sedang dibahas dalam suatu paragraf.
b. Kalimat utama
Kalimat utama adalah kalimat yang mengandung gagasan utama. Kalimat ini memaparkan apa yang akan dibahas pada paragraf tersebut. Letak kalimat utama di dalam sebuah paragraf bervariasi ada yang terletak di awal yang disebut dengan paragraf deduktif, di akhir yang disebut paragraf induktif maupun di awal dan akhir yang disebut paragraf campuran.
Kalimat utama adalah kalimat yang mengandung gagasan utama. Kalimat ini memaparkan apa yang akan dibahas pada paragraf tersebut. Letak kalimat utama di dalam sebuah paragraf bervariasi ada yang terletak di awal yang disebut dengan paragraf deduktif, di akhir yang disebut paragraf induktif maupun di awal dan akhir yang disebut paragraf campuran.
c. Kalimat penjelas
Kalimat penjelas adalah kalimat – kalimat yang mendukung gagasan utama. Kalimat penjelas perlu untuk ditulis karena kalimat inilah yang akan memberikan alasan yang kuat pada gagasan utama. Kalimat – kalimat ini harus mengandung data berupa fakta, contoh maupun alasan yang jelas.
Kalimat penjelas adalah kalimat – kalimat yang mendukung gagasan utama. Kalimat penjelas perlu untuk ditulis karena kalimat inilah yang akan memberikan alasan yang kuat pada gagasan utama. Kalimat – kalimat ini harus mengandung data berupa fakta, contoh maupun alasan yang jelas.
2. Kesatuan (Unity)
Suatu
paragraf yang baik juga harus memiliki syarat kesatuan atau unity. Yang
dimaksud dengan kesatuan adalah suatu paragraf harus memiliki satu
kesatuan gagasan utama beserta dengan gagasan – gagasan penjelas lainnya.
Gagasan – gagasan tersebut dikembangkan dengan saling menghubungkannya satu
sama lain dengan suatu kesatuan yang utuh sehingga tidak menyebabakan kalimat
sumbang di dalam paragraf.
Dengan
kata lain, syarat kesatuan akan terpenuhi jika gagasan utama di dalam paragraf
terjalin sangat baik dengan gagasan – gagasan penejelas lainnya dan saling
mendukung satu sama lain. Jika tidak adanya kesatuan di dalam paragraf,
maka bisa dipastikan paragraf tersebut tidaklah baik.
3.
Kepaduan
(Coherence)
Paragraf
yang baik harus memiliki unsur kepaduan di dalamnya. Yang dimaksud dengan
kepaduan adalah kalimat – kalimat di dalam paragraf terjalin atau terangkai
dengan logis dan serasi. Syarat kepaduan di dalam suatu paragraf terpenuhi
dengan menggunakan konjungsi sehingga kalimat – kalimat tersebut menjadi saling
berkaitan.
Ada dua macam konjungsi yang dapat digunakan di dalam suatu paragraf, diantaranya adalah konjungsi intrakalimat, yaitu konjungsi yang menghubungkan anak kalimat dengan induk kalimat seperti : sehingga, tetapi, karena, agar, dan sebagainya. Serta konjungsi antar kalimat, yaitu konjungsi yang menghubungkan antara kalimat yang satu dengan kalimat lainnya, seperti : oleh karena itu, namun, disamping, bahkan, jadi, kemudian, dan sebagainya.
Ada dua macam konjungsi yang dapat digunakan di dalam suatu paragraf, diantaranya adalah konjungsi intrakalimat, yaitu konjungsi yang menghubungkan anak kalimat dengan induk kalimat seperti : sehingga, tetapi, karena, agar, dan sebagainya. Serta konjungsi antar kalimat, yaitu konjungsi yang menghubungkan antara kalimat yang satu dengan kalimat lainnya, seperti : oleh karena itu, namun, disamping, bahkan, jadi, kemudian, dan sebagainya.
Syarat – syarat di atas penting
untuk dipenuhi agar suatu paragraf menjadi baik sehingga para pembacanya mudah
memahami apa yang sedang dibicarakan atau dibahas dalam paragraf tersebut.
Contoh Paragraf
Di bawah ini adalah contoh paragraf yang tidak memenuhi kaidah
dan contoh paragraf yang memnuhi
kaidah,sebagai berikut.
Contoh:
Nasi adalah makanan pokok masyarakat Indonesia. Hampir di setiap daerah di Indonesia mengkonsumsi nasi sebagai makanan sehari – hari. Masyarakat Indonesia bagian timur berbeda. Mereka masih mengkonsumsi sagu sebagai bahan pokoknya. Penggunaan nasi sebagai bahan makanan pokok karena proses penanamannya yang mudah dan cepat. Para petani membutuhkan sawah dan merawatnya selama 6 bulan untuk menghasilkan beras yang akan menjadi nasi. Sekali panen, biasanya petani akan menghasilkan beras yang sangat banyak. Proses penanamannya yang cepat dan mudah, nasi juga memiliki kandungan karbohidrat yang lebih tinggi dibandingkan dengan makanan lainnya. Nasi sangat cocok untuk orang Indonesia yang sangat membutuhkan energi yang banyak untuk mendukung aktivitsnya sehari – hari.
Paragraf di atas bukanlah paragraf yang baik karena tidak mengandung syarat– syarat yang telah disebutkan di atas.
Kelengkapan : Unsur ini tidak terpenuhi karena memiliki dua gagasan utama yang saling bertolak belakang yang pertama adalah nasi menjadi bahan makanan pokok bagi hampir seluruh masyarakat Indonesia. Yang kedua adalah masyarakat Indonesia bagian barat mengkonsumsi sagu.
Kesatuan : Gagasan – gasan utama pada paragraf di atas tidak terjalin dengan sangat baik sehingga pembacanya bingung dengan apa yang menjadi topik pembicaraannya. Gagasan – gagasan paragraf di atas juga tidak saling mendukung.
Kepaduan : Kalimat – kalimat di dalam paragraf di atas tidaklah padu karena tidak menggunakan konjungsi sehigga susunannya menjadi tidak logis.
Pada kalimat terakhir seharusnya ditambah konjungsi antar kalimat “oleh karena itu” agar menajadi lebih padu.
Setelah memperhatikan paragraf yang buruk di atas, berikut ini adalah paragraf baik yang memenuhi kaidah:
Contoh:
Nasi adalah makanan pokok masyarakat Indonesia. Hampir di setiap daerah di Indonesia mengkonsumsi nasi sebagai makanan sehari – hari. Penggunaan nasi sebagai bahan makanan pokok karena proses penanamannya yang mudah dan cepat. Para petani hanya membutuhkan sawah dan merawatnya selama 6 bulan untuk menghasilkan beras yang akan menjadi nasi. Sekali masa panen, para petani bisa menghasilkan puluhan kwintal beras. Di samping proses penanamannya yang cepat dan mudah, nasi juga memiliki kandungan karbohidrat yang lebih tinggi dibandingkan dengan bahan makanan lainnya. Karbohidrat inilah yang menjadi sumber energi bagi kita. Oleh karena itu, nasi sangatlah cocok untuk orang Indonesia yang sangat membutuhkan energi yang banyak untuk mendukung aktivitsnya sehari – hari.
Contoh:
Nasi adalah makanan pokok masyarakat Indonesia. Hampir di setiap daerah di Indonesia mengkonsumsi nasi sebagai makanan sehari – hari. Masyarakat Indonesia bagian timur berbeda. Mereka masih mengkonsumsi sagu sebagai bahan pokoknya. Penggunaan nasi sebagai bahan makanan pokok karena proses penanamannya yang mudah dan cepat. Para petani membutuhkan sawah dan merawatnya selama 6 bulan untuk menghasilkan beras yang akan menjadi nasi. Sekali panen, biasanya petani akan menghasilkan beras yang sangat banyak. Proses penanamannya yang cepat dan mudah, nasi juga memiliki kandungan karbohidrat yang lebih tinggi dibandingkan dengan makanan lainnya. Nasi sangat cocok untuk orang Indonesia yang sangat membutuhkan energi yang banyak untuk mendukung aktivitsnya sehari – hari.
Paragraf di atas bukanlah paragraf yang baik karena tidak mengandung syarat– syarat yang telah disebutkan di atas.
Kelengkapan : Unsur ini tidak terpenuhi karena memiliki dua gagasan utama yang saling bertolak belakang yang pertama adalah nasi menjadi bahan makanan pokok bagi hampir seluruh masyarakat Indonesia. Yang kedua adalah masyarakat Indonesia bagian barat mengkonsumsi sagu.
Kesatuan : Gagasan – gasan utama pada paragraf di atas tidak terjalin dengan sangat baik sehingga pembacanya bingung dengan apa yang menjadi topik pembicaraannya. Gagasan – gagasan paragraf di atas juga tidak saling mendukung.
Kepaduan : Kalimat – kalimat di dalam paragraf di atas tidaklah padu karena tidak menggunakan konjungsi sehigga susunannya menjadi tidak logis.
Pada kalimat terakhir seharusnya ditambah konjungsi antar kalimat “oleh karena itu” agar menajadi lebih padu.
Setelah memperhatikan paragraf yang buruk di atas, berikut ini adalah paragraf baik yang memenuhi kaidah:
Contoh:
Nasi adalah makanan pokok masyarakat Indonesia. Hampir di setiap daerah di Indonesia mengkonsumsi nasi sebagai makanan sehari – hari. Penggunaan nasi sebagai bahan makanan pokok karena proses penanamannya yang mudah dan cepat. Para petani hanya membutuhkan sawah dan merawatnya selama 6 bulan untuk menghasilkan beras yang akan menjadi nasi. Sekali masa panen, para petani bisa menghasilkan puluhan kwintal beras. Di samping proses penanamannya yang cepat dan mudah, nasi juga memiliki kandungan karbohidrat yang lebih tinggi dibandingkan dengan bahan makanan lainnya. Karbohidrat inilah yang menjadi sumber energi bagi kita. Oleh karena itu, nasi sangatlah cocok untuk orang Indonesia yang sangat membutuhkan energi yang banyak untuk mendukung aktivitsnya sehari – hari.
H. Pengertian
Penalaran
Penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera
(pengamatan empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian.
Berdasarkan pengamatan yang sejenis juga akan terbentuk proposisi – proposisi
yang sejenis, berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap
benar, orang menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak
diketahui. Proses inilah yang disebut menalar. Dalam penalaran, proposisi yang
dijadikan dasar penyimpulan disebut dengan premis (antesedens) dan hasil
kesimpulannya disebut dengan konklusi (consequence).
I. Macam-macam Penalaran
1. Induktif
Induktif adalah hal khusus menuju hal umum. Ya itu kuncinya “dari yang khusus
menuju yang umum. Bila diuraikan, jangan terpatok pada gaya definisi seseorang,
coba uraikan sendiri definisi paragraf induktif dengan kata kunci “dari khusus
ke umum” tadi. Atau kalau memang malas menguraikan, mari lihat definisi
berikut;
Paragraf Induktif adalah paragraf yang dimulai dengan menyebutkan
peristiwa-peristiwa yang khusus, untuk menuju kepada kesimpulan umum, yang
mencakup semua peristiwa khusus di atas.
Masih kurang puas dengan definisi tersebut? Baiklah karena definisi yang
baik disertai dengan batasan dan ciri-cirinya. Kita uraikan ciri-cirinya.
Ciri-ciri paragraf induktif dapat diketahui dengan melihat atau membuat sebuah
paragraf. Apabila dalam paragraf itu mula-mula menyebutkan peristiwa khusus dan
diakhiri dengan kesimpulan berdasar peristiwa khusus tersebut, maka bisa
dipastikan anda sedang membaca atau membuat paragraf induktif.
Ciri-ciri Paragraf Induktif
1.
Terlebih dahulu
menyebutkan peristiwa-peristiwa khusus
2.
Kemudian, menarik
kesimpulan berdasarkan peristiwa-peristiwa khusus
3.
Kesimpulan terdapat di
akhir paragraf
4.
Menemukan Kalimat
Utama, Gagasan Utama, Kalimat Penjelas, Kalimat utama paragraf induktif
terletak di akhir paragraf
5.
Gagasan Utama terdapat
pada kalimat utama
6.
Kalimat penjelas
terletak sebelum kalimat utama, yakni yang mengungkapkan peristiwa-peristiwa
khusus
7.
Kalimat penjelas
merupakan kalimat yang mendukung gagasa utama
CONTOH :
-Harimau berdaun telinga berkembang biak dengan melahirkan
-Ikan Paus berdaun telinga berkembang biak dengan melahirkan
Kesimpulan —> Semua hewan yang berdaun telinga berkembang biak dengan
melahirkan.
2. Deduktif
Deduktif adalah contoh suatu paragraf yang dibentuk dari suatu masalah yang
bersifat umum, lebih luas. Setelah itu ditarik kesimpulan menjadi suatu masalah
yang bersifat khusus atau lebih spesifik. Atau juga dapat diartikan, suatu
paragraf yang kalimat utamanya berada di depan paragraf kemudian diikuti oleh
kalimat penjelas.
Contoh :
Beberapa tips belajar menjelang Ujian Akhir Nasional. Jangan pernah belajar
“dadakan”. Artinya belajar sehari sebelum ujian. Belajarlah muai dari sekarang.
Belajar akan efektif kalau belajar kumpulan soal. Hal ini dapat dilakukan
dengan cara menjawab soal-soal di buku kumpulan soal. Mencocokannya, lalu
menilainya. Barulah materi yang tidak dikuasai dicari di buku.
Kalimat utama dari paragraph adalah kalimat yang di garis bawahi, dan
kalimat itu berada depan paragraf sesuai dengan ciri-ciri dari paragraph
deduktif.
a. Proposisi
Proposisi adalah pernyataan tentang hubungan yang terdapat di
antara subjek dan predikat. Dengan kata lain, proposisi adalah pernyataan yang
lengkap dalam bentuk subjek-predikat atau term-term yang membentuk kalimat.
Kaliimat Tanya,kalimat perintah, kalimat harapan , dan kalimat inversi tidak
dapa disebut proposisi . Hanya kalimat berita yang netral yang dapat disebut
proposisi. Tetapi kalimat-kalimat itu dapat dijadikan proposisi apabila diubah
bentuknya menjadi kalimat berita yang netral.
Jenis-Jenis Proposi:
Proposisi dapat di pandang dari 4 kriteria, yaitu berdasarkan :
1. Berdasarkan bentuk, proposisi dapat dibagi menjadi 2, yaitu :
a. Tunggal adalah proposisi yang terdiri dari satu subjek dan satu predikat
atau hanya mengandung satu pernyataan.
Contoh :
-Semua petani harus bekerja keras.
-Setiap pemuda adalah calon pemimpin.
b. Majemuk atau jamak adalah proposisi yang terdiri dari satu subjek dan lebih
dari satu predikat.
Contoh :
-Semua petani harus bekerja keras dan hemat.
-Paman bernyanyi dan menari.
2. Berdasarkan sifat, proporsis dapat dibagi ke dalam 2 jenis, yaitu:
a. Kategorial adalah proposisi yang hubungan antara subjek dan predikatnya
tidak membutuhkan / memerlukan syarat apapun.
Contoh:
-Semua kursi di ruangan ini pasti berwarna coklat.
-Semua daun pasti berwarna hijau.
b. Kondisional adalah proposisi yang membutuhkan syarat tertentu di dalam
hubungan subjek dan predikatnya. Proposisi dapat dibedakan ke dalam 2 jenis,
yaitu: proposisi kondisional hipotesis dan disjungtif.
Contoh proposisi kondisional:
- Jika hari mendung maka akan turun hujan
Contoh proposisi kondisional hipotesis:
-
Jika harga BBM turun
maka rakyat akan bergembira.
Contoh proposisi kondisional disjungtif:
-
Cristiano ronaldo
pemain bola atau bintang iklan.
3. Berdasarkan kualitas, proposisi juga dapat dibedakan menjadi 2 jenis,
yaitu:
a. Positif(afirmatif) adalah proposisi yang membenarkan adanya persesuaian
hubungan antar subjek dan predikat.
Contoh:
- Semua dokter
adalah orang pintar.
- Sebagian manusia
adalah bersifat sosial.
b. Negatif adalah proposisi yang menyatakan bahawa antara subjek dan predikat
tidak mempunyai hubungan.
Contoh:
- Semua harimau bukanlah singa.
- Tidak ada seorang lelaki pun yang mengenakan rok.
4. Berdasarkan kuantitas., proposisi dapat dibedakan ke dalam 2 jenis, yaitu:
a.
Umum adalah predikat
proposisi membenarkan atau mengingkari seluruh subjek.
Contoh:
- Semua gajah bukanlah kera.
- Tidak seekor gajah pun adalah kera.
b.
Khusus adalah predikat
proposisi hanya membenarkan atau mengingkari sebagian subjeknya.
Contoh:
-
Sebagian mahasiswa
gemar olahraga.
-
Tidak semua mahasiswa
pandai bernyanyi.
b.Premis
Ialah pernyataan yang digunakan sebagai dasar penarikan kesimpulan.
Merupakan kesimpulan yang ditarik berdasarkan premis mayor dan premis minor.
Subjek pada kesimpulan itu merupakan term minor. Term menengah menghubungkan
term mayor dengan term minor dan tidak boleh terdapat pada kesimpulan. Perlu
diketahui, term ialah suatu kata atau kelompok kata yang menempati fungsi
subjek (S) atau predikat (P).
Contoh:
- Semua cendekiawan adalah manusia pemikir
- Semua ahli filsafat adalah cendekiawan
- Semua ahli filsafat adalah manusia pemikir.
c. Kopula
Kopula ialah kata yang menghubungkan subjek dan predikat. Sering kali
proposisi memiliki pembilang yang mengacu kepada kuantitas subjek.
Contoh:
“Semua manusia adalah fana”
Semua = pembilang
Manusia = subjek
Adalah = kopela
Fana = predikat
d. Konklusi
atau Inferensi
Penarikan konklusi atau inferensi ialah proses mendapatkan suatu proposisi
yang ditarik dari satu atau lebih proposisi, sedangkan proposisi yang diperoleh
harus dibenarkan oleh proposisi (proposisi) tempat menariknya. Proposisi yang
diperoleh itu disebut konklusi.
Penarikan suatu konklusi dilakukan atas lebih dari satu proposisi dan jika
dinyatakan dalam bahasa disebut argumen. Proposisi yang digunakan untuk menarik
proposisi baru disebutpremis sedangkan proposisi yang ditarik dari premis
disebut konklusi atau inferensi.
Penarikan konklusi ini dilakukan denga dua cara yaitu induktif dan
deduktif. Pada induktif, konklusi harus lebih umum dari premis (premisnya),
sedangkan pada deduktif, konklusi tidak mungkin lebih umum sifatnya dari premis
(premisnya). Atau dengan pengertian yang popular, penarikan konklusi yang
induktif merupakan hasil berfikir dari soal-soal yang khusus membawanya kepada
kesimpulan-kesimpulan yang umum. Sebaliknya, penarikan konklusi yang deduktif
yaitu hasil proses berfikir dari soal-soal yang umum kepada
kesimpulan-kesimpulan yang khusus.
Penarikan suatu konklusi deduktif dapat dilakukan denga dua cara yaitu
secara langsung dan tidak langsung. Penarikan konklusi secara langsung
dilakukan jika premisnya hanya satu buah. Konklusi langsung ini sifatnya
menerangkan arti proposisi itu. Karena sifatnya deduktif, konklusi yang
dihasilkannya tidak dapat lebih umum sifatnya dari premisnya. Penarikan
konklusi secara tidak langsung terjadi jika proposisi atau premisnya lebih dari
satu.
1. MENARIK SIMPULAN SECARA LANGSUNG
Penarikan secara
langsung ditarik dari satu premis.
Contoh kalimat :
Ban motor Ani pecah
sedangkan ani besok ingin pergi ke kampus, tetapi ani tidak mempunyai uang
untuk mengganti ban motor.
Kesimpulan : Ani besok
tidak pergi ke kampus karena ban motornya pecah.
2. MENARIK SIMPULAN SECARA TIDAK LANGSUNG
Penarikan ini ditarik dari dua premis. Premis pertama adalah premis yang
bersifat umum, sedangkan yang kedua adalah yang bersifat khusus.
Contoh:
A : Anak-anak begitu gembira ketika ibu memberikan bekal makanan.
B : Sayang gudegnya agak sedikit saya bawa.
Inferensi yang menjembatani kedua ucapan tersebut misalnya (C) berikut ini.
C : Bekal yang dibawa ibu lauknya gudek komplit.oh:
e. Evidensi
Adalah semua fakta yang ada, yang dihubung-hubungkan untuk membuktikan
adanya sesuatu. Evidensi merupakan hasil pengukuan dan pengamatan fisik yang
digunakan untuk memahami suatu fenomena. Evidensi sering juga disebut bukti
empiris. Akan tetapi pengertian evidensi ini sulit untuk ditentukan secara
pasti, meskipun petunjuk kepadanya tidak dapat dihindarkan.
Kita mungkin mengartikannya sebagai “cara bagaimana kenyataan hadir” atau
perwujudan dari ada bagi akal”. Misal Mr.A mengatakan “Dengan pasti ada 301.614
ikan di bengawan solo”, apa komentar kita ? Tentu saja kita tidak hanya
mengangguk dan mengatakan “fakta yang menarik”. Kita akan mengernyitkan dahi
terhadap keberanian orang itu untuk berkata demikian.
Tentu saja reaksi kita tidak dapat dilukiskan sebagai “kepastian”, Tentu
saja kemungkinan untuk benar tidak dapat di kesampingkan, bahwa dugaan ngawur
atau ngasal telah menyatakan jumlah yang persis. Tetapi tidak terlalu sulit
bagi kita untuk menangguhkan persetujuan kita mengapa ? Karena evidensi memadai
untuk menjamin persetujuan jelaslah tidak ada. Kenyataannya tidak ada dalam
persetujuan terhadap pernyataan tersebut.
Sebaliknya, kalau seorang mengatakan mengenai ruang di mana saya duduk,
“Ada tiga jendela di dalam ruang ini,” persetujuan atau ketidak setujuan saya
segera jelas. Dalam hal ini evidensi yang menjamin persetujuan saya dengan
mudah didapatkan.
Dalam wujud yang paling rendah. Evidensi itu berbentuk data atau informasi.
Yang di maksud dengan data atau informasi adalah bahan keterangan yang di
peroleh dari suatu sumber tertentu.
Cara menguji data :
Data dan informasi yang
di gunakan dalam penalaran harus merupakan fakta. Oleh karena itu perlu
diadakan pengujian melalui cara-cara tertentu sehingga bahan-bahan yang
merupakan fakta itu siap di gunakan sebagai evidensi.
Di bawah ini beberapa
cara yang dapat di gunakan untuk pengujian tersebut.
1. Observasi
2. Kesaksian
3. Autoritas
Cara menguji fakta
Untuk menetapkan apakah
data atau informasi yang kita peroleh itu merupakan fakta, maka harus diadakan
penilaian. Penilaian tersebut baru merupakan penilitian tingkat pertama untuk
mendapatkan keyakinan bahwa semua bahan itu adalah fakta, sesudah itu pengarang
atau penulis harus mengadakan penilaian tingkat kedua yaitu dari semua fakta
tersebut dapat digunakan sehingga benar-benar memperkuat kesimpulan yang akan
diambil. Apakah itu dalam bentuk Konsistensi atau Koherensi.
f. Implikasi
Implikasi diwujudkan dengan pernyataan “jika-maka” atau juga “if-then“.
Implikasi adalah suatu pernyataan logika yang hanya akan bernilai salah ketika
sebab bernilai benar DAN akibat bernilai salah.
Contoh:“Jika lampu merah menyala maka kendaraan bermotor akan berhenti”
Kalimat diatas tidak akan sama dengan :
“Jika kendaraan bermotor berhenti maka lampu merah menyala”
g. Term
Term adalah suatu kata atau suatu kumpulan kata yang merupakan ekspressi
verbal dari suatu pengertian.
1. Bagian dari proposisi yang berfungsi sebagai subyek atau predikat, serta
dapat berfungsi sebagai penghubung antara dua proposisi yang disebut premis
dalam sebuah silogisme.
2. Tidak semua kata atau kumpulan kata adalah term, meskipun setiap term
itu adalah kata atau kumpulan kata. Alasannya: tidak semua kata atau kumpulan
kata pada dirinya sendiri merupakan ekspressi verbal dari pengertian, dan bahwa
tidak semua kata pada dirinya sendiri berfungsi sebagai subyek atau predikat
dalam suatu proposisi.
3. Term adalah kata atau sejumlah kata yang dapat berdiri sendiri. Jenis
kata seperti itu disebut kata kategorimatis. Mis. : bunga, burung, pohon (term
tunggal), orang tua asuh, pencinta lingkungan hidup (term majemuk).
4. Ada jenis kata yang tidak bisa berdiri sendiri, baik sebagai subyek
maupun predikat. Ini disebut kata sinkategorimatis. Mis. : tetapi, beberapa,
karena, dengan cepat. Pada dirinya sendiri kata-kata ini tidak merupakan
ekspressi verbal dari pengertian, dan karena itu tidak merupakan term.
5. Kata-kata sinkategorimatis itu selalu tergantung pada kata-kata
kategorimatis untuk membentuk sebuah term. Ump.: kata “berjalan”
(kategorimatis, term), “dengan cepat” (sinkategorimatis, bukan term). Tapi
“berjalan dengan cepat” mengungkapkan suatu pengertian baru, dan karena itu
dapat berfungsi sebagai term dalam sebuah proposisi.
Jenis-jenis Term
a. Dalam kaitan dengan pengertian (arti yang dikandungnya)
-
Term Univok (satu kata,
satu pengertian) : karyawan, pelanggan, guru, manager.
-
Term Ekuivok (satu
kata, lebih dari satu pengertian): genting, bulan, bait, pasar.
-
Term Analog (satu kata,
pengertian bisa sama bisa berbeda): ada, suap, sehat.
b. Dalam kaitan dengan jumlah kata
-
Term Tunggal : gunung,
manusia, kejahatan.
-
Term Majemuk : Kereta
api, lapangan sepak bola, CEO, TQM, BKIA, KPKPN.
c. Term ditinjau dari luasnya
-
Term Singular:
mengatakan tentang satu hal tertentu
-
Term Partikular:
mengatakan tentang sebagian
-
Term universal:
mengatakan tentang seluruh luasnya.
d. Berdasarkan sifatnya
-
Term Distributif:
berlaku untuk setiap anggota
-
Term Kolektif: berlaku
pada sesuatu sebagai satu kesatuan
e. Berdasarkan fungsinya dalam proposisi dan silogisme
-
Term subyek
-
Term predikat
-
Term menengah /
terminus medius
J. Metode-metode Penalaran
1. Deduktif
Metode berpikir deduktif adalah suatu metode berpikir yang menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagian yang khusus. Hal ini adalah suatu sistem penyusunan fakta yang telah diketahui sebelumnya guna mencapai suatu kesimpulan yang logis. Dalam penalaran deduktif, dilakukan melalui serangkaian pernyataan yang disebut silogisme dan terdiri atas beberapa unsur yaitu:
Metode berpikir deduktif adalah suatu metode berpikir yang menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagian yang khusus. Hal ini adalah suatu sistem penyusunan fakta yang telah diketahui sebelumnya guna mencapai suatu kesimpulan yang logis. Dalam penalaran deduktif, dilakukan melalui serangkaian pernyataan yang disebut silogisme dan terdiri atas beberapa unsur yaitu:
a. Dasar pemikiran utama (premis mayor)
b. Dasar pemikiran kedua (premis minor)
c. Kesimpulan
Contoh:
Premis mayor: Semua siswa SMA kelas X wajib mengikuti pelajaran Sosiologi.
Premis minor: Bob adalah siswa kelas X SMA
Kesimpulan: Bob wajib mengikuti jam pelajaran Sosiologi
Premis mayor: Semua siswa SMA kelas X wajib mengikuti pelajaran Sosiologi.
Premis minor: Bob adalah siswa kelas X SMA
Kesimpulan: Bob wajib mengikuti jam pelajaran Sosiologi
2. Induktif
Metode berpikir induktif adalah metode yang digunakan dalam berpikir dengan bertolak dari hal-hal yang bersifat khusus untuk menentukan kesimpulan yang bersifat umum. Dalam penalaran induktif ini, kesimpulan ditarik dari sekumpulan fakta peristiwa atau pernyataan yang bersifat umum.
Metode berpikir induktif adalah metode yang digunakan dalam berpikir dengan bertolak dari hal-hal yang bersifat khusus untuk menentukan kesimpulan yang bersifat umum. Dalam penalaran induktif ini, kesimpulan ditarik dari sekumpulan fakta peristiwa atau pernyataan yang bersifat umum.
Contoh:
Bukti 1: logam 1 apabila dipanaskan akan memuai
Bukti 2: logam 2 apabila dipanaskan akan memuai
Bukti 3: logam 3 apabila dipanaskan akan memuai
Kesimpulan: Semua logam apabila dipanaskan akan memuai.
Bukti 1: logam 1 apabila dipanaskan akan memuai
Bukti 2: logam 2 apabila dipanaskan akan memuai
Bukti 3: logam 3 apabila dipanaskan akan memuai
Kesimpulan: Semua logam apabila dipanaskan akan memuai.
3. Pendekatan Ilmiah (Gabungan antara Deduktif dan
Induktif)
Metode berpikir pendekatan ilmiah adalah penalaran yang menggabungkan cara berpikir deduktif dengan cara berpikir induktif. Dalam pendekatan ilmiah, penalaran disertai dengan suatu hipotesis.
Metode berpikir pendekatan ilmiah adalah penalaran yang menggabungkan cara berpikir deduktif dengan cara berpikir induktif. Dalam pendekatan ilmiah, penalaran disertai dengan suatu hipotesis.
Misalkan seorang siswa yang apabila sebelum berangkat
sekolah telah sarapan terlebih dahulu dalam porsi yang banyak, dia tidak akan
kelaparan hingga jam pelajaran berakhir. Secara deduktif, akan disimpulkan
bahwa setiap anak yang makan banyak tidak akan cepat lapar.
Untuk
menjawab kasus seperti ini, kita ajukan pertanyaan mengapa seorang siswa cepat
lapar? Untuk itu, kita ajukan hipotesis bahwa siswa akan cepat lapar jika
makanan yang dimakan kurang memenuhi standar gizi dan energi yang dihasilkan
oleh makanan tersebut sedikit. Kemudian secara induktif kita
uji untuk mengetahui apakah hasil pengujian mendukung atau tidak mendukung
hipotesis yang diajukan tersebut.
BAB III
PENUTUP
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari pembahasan
ini dapat kami tarik kesimpulan bahwa paragraf adalah kumpulan kalimat yang
saling berkaitan dan hanya memiliki satu tema kemudian terdapat didalamnya
kalimat utama dan kalimat penjelas.
Diantara
tujuan penggunaan paragraf adalah memudahkan pengertian dan pemahaman dengan
menceraikan suatu tema dengan tema yang lain. tujuan lainnya adalah memisahkan
dan menegaskan perhentian secara wajar dan formal, untuk memungkinkan kita
berhenti lebih lama daripada perhentian kalimat terakhir.
Ada
banyak jenis-jenis paragraf yang dapat kita pelajari antara lain paragraf
pembuka, paragraf penghubung, paragraf penutup, dan paragraf merata.
Kemudian berdasarkan kalimat utamanya dapat dibedakan menjadi tiga, deduktif,
induktif dan campuran.
Penalaran
adalah proses berpikir untuk menarik kesimpulan dari kalimat yang dibaca. Dalam
penalaran dibagi dua yaitu secara deduktif dan induktif.Penalaran juga
mempunyai beberapa metode.
B. Saran
Kami
menyadari bahwa makalah ini tentunya masih banyak terdapat kekurangan, kekeliruan
dan kesalahan. Oleh karena itu kami harapkan kritik dan saran dari pembaca
sekalian yang sifatnya membangun, demi menuju kesempurnaan makalah-makalah kami
yang akan datang. Atas kritik dan saran saudara kami ucapkan terimakasih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar