Kamis, 18 Januari 2018

paragraf

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar belakang
Dalam  sebuah  karangan  ilmiah  tidak  mungkin  baik  bila  paragraf-paragraf  penyusunnya  tidak  baik.  Sama  halnya  dengan  paragraf,  tidak mungkin menjadi paragraf yang baik bila kalimat-kalimat penyusunnya juga tidak baik. Demikian juga dengan kalimat, tidak mungkin diperoleh kalimat yang baik bila kata-kata penyusunnya tidak tepat dan tidak sesuai.Oleh karena itu,dalam makalah ini akan membahas tentang penalaran dalam penulisan karya ilmiah dan pengembangan paragraph dalam penulisan karya  ilmiah.Materi  penalaran  dan  pengembangan  paragraph  ini dimanfaatkan  ketika  penulis  karya  ilmiah  sedang  melaksanakan pengembangan paragraph dan penyusunan draf karya ilmiah.Materi ini akan menuntut  penulis  karya  ilmiah  mengembangkan  gagasan  secara runtut,sistematis,dan bernalar sehingga gagasannya mudah dipahami.
     Kalimat utama atau disebut juga kalimat topik merupakan kalimat pokok atau gambaran umum tentang ide yang ingin di sampaikan. Sedangkan kalimat penjelas merupakan gambaran rinci dari ide yang akan di sampaikan. Dengan kata lain kalimt penjelas menguraikan ataupun menerangkan pikiran utama yang terdapat pada kalimat topik. Misalnya, kita ingin membahas masalah bola. Maka kalimat utama paragraf tersebut merupakan gambaran umum tentang bola, sedangkan kalimat penjelasnya bisa berupa gambaran khusus tentang bola tersebut.
Paragraf ialah suatu kumpulan dari kesatuan pikiran yang kedudukannya lebih tinggi serta lebih luas dari pada kalimat. Atau dapat diartikan pula paragraf adalah bagian dari sebuah karangan yang terdiri dari beberapa kalimat, yang berisiskan tentang informasi dari penulis untuk pembaca dengan pikiran utama sebagai pusatnya dan juga pikiran penjelas sebagai pendukungnya. Paragraf terdiri dari beberapa kalimat yang berhubungan antara satu dengan yang lain dalam suatu rangkaian yang mengahasilkan sebuah informasi. Paragarf juga dapat disebut sebagai penuangan ide dari penulis melalui beberapa kalimat yang berkaitan dan memiliki satu tema. Paragraf juga dapat disebut sebagai karangan yang singkat.Penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (pengamatan empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Berdasarkan pengamatan yang sejenis juga akan terbentuk proposisi – proposisi yang sejenis, berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap benar, orang menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui. Proses inilah yang disebut menalar.

B.     Rumusan Masalah
1.  Apakah pengertian paragraf?
2.  Apakah ciri-ciri paragraf
3.  Apakah jenis-jenis paragraf
4.  Apakah fungsi paragraf?
5.  Apakah unsur-unsur paragraf
6   Bagaimana paragraf yang baik dan benar?
7.  Apakah syarat-syarat paragraf?
8.  Apakah pengertian penalaran?
9.  Apakah macam-macam penalaran?
10. Bagamanakah metode penalaran?

C.     Tujuan
Tujuan adanya makalah ini adalah untuk memenuhi tugas Bahasa Indonesia dan untuk menambah khazanah keilmuan para pembaca, maka dengan adanya makalah ini kita bisa mengetahui tentang cara penulisan paragraf dan menerapkan pola penalaran deduktif dan induktif.
D.    Manfaat
1.      Mengurangi kesalahan dalam penulisan paragraf
2.      Tahu banyak tentang paragraf dan penalaran dengan baik sesuai dengan                                kaidah yang berlaku
BAB II
PEMBAHASAN


A.    Pengertian Paragraf
Paragraf ialah suatu kumpulan dari kesatuan pikiran yang kedudukannya lebih tinggi serta lebih luas dari pada kalimat. Atau dapat diartikan pula paragraf adalah bagian dari sebuah karangan yang terdiri dari beberapa kalimat, yang berisiskan tentang informasi dari penulis untuk pembaca dengan pikiran utama sebagai pusatnya dan juga pikiran penjelas sebagai pendukungnya. Paragraf terdiri dari beberapa kalimat yang berhubungan antara satu dengan yang lain dalam suatu rangkaian yang mengahasilkan sebuah informasi. Paragarf juga dapat disebut sebagai penuangan ide dari penulis melalui beberapa kalimat yang berkaitan dan memiliki satu tema. Paragraf juga dapat disebut sebagai karangan yang singkat.
Pengertian paragraf menurut para Ahli sebagai berikut
Pengertian paragraf dalam kamus Cambridge bahwa paragraf adalah bagian kecil dari artikel yang tersusun sedikitnya satu kalimat dan diawali pada garis atau alinea baru (a ​short ​part of a ​text, consisting of at least one ​sentence and ​beginning on a new ​line). Umumnya tersusun atas satu kejadian, satu peristiwa, satu deskripsi ataupun satu ide pokok (It usually ​deals with a ​single ​event, ​description, ​idea, etc).
Pengertian paragraf menurut Scott and Denny’s (1909) bahwa pengertian paragraf adalah sebuah unit wacana (diskursus) yang mengembangkan satu ide atau gagasan pokok (A paragraph is a unit of discourse developing a single idea). Paragraf tersusun atas satu atau sekelompok kalimat yang saling berhubungan satu sama lain dan dengan ide pokok yang ada (It consists of a group or series of sentences closely related to one another and to the thought expressed by the whole group or series). Paragraf dikhususkan, seperti kalimat, untuk mengembangkan satu topik atau ide pokok atau gagasan utama (Devoted, like the sentence, to the development of one topic)


B.     Ciri – Ciri Paragraf
Adapun ciri-ciri paragraf sebagai berikut:
1.      Kalimat pada baris pertama terletak agak dalam. Yakni, dengan jarak lima ketukan spasi untuk jenis karangan yang biasa. Untuk kalimat pada baris selanjutnya biasanya lebi maju dari kalimat pad abaris pertama.
  1. Paragraf memiliki dua jenis kalimat. Yakni, kalimat utama dan kalimat penjelas.
  2. Sebuah paragraf biasanya memakai satu kalimat utama dan beberapa kalimat penjelas.
     Kalimat utama atau disebut juga kalimat topik merupakan kalimat pokok atau gambaran umum tentang ide yang ingin di sampaikan. Sedangkan kalimat penjelas merupakan gambaran rinci dari ide yang akan di sampaikan. Dengan kata lain kalimt penjelas menguraikan ataupun menerangkan pikiran utama yang terdapat pada kalimat topik. Misalnya, kita ingin membahas masalah bola. Maka kalimat utama paragraf tersebut merupakan gambaran umum tentang bola, sedangkan kalimat penjelasnya bisa berupa gambaran khusus tentang bola tersebut.
C.     Jenis – Jenis Paragraf
     Dengan ciri-ciri  paragraf yang telah disebutkan di atas, kita dapat memahami bagai mana dentuk sebuah paragraf itu. Selanjutnya akan kita bahas tentang jenis-jenis dari paragraf. Adapun jenisnya sebagai berikut:
Paragraf berdasarkan jenis ceritanya yakni:
1.      Paragraf Narasi
Paragraf Narasi merupakan paragraf yang menceritakan suatu kejadian berdasarkan urutan waktunya. Paragraf narasi terdiri dua jenis yakni narasi kejadian dan narasi runtut cerita. Paragraf narasi kejadian merupakan paragraf yang menceritakan suatu kejadian. Sedangkan paragraf narasi runtut cerita yaitu paragraf yang pola pengembangannya dimulai dengan sebuah tindakan yang menghasilkan sesuatu berlanjut ketahap berikutnya hingga tahap ahir dari cerita.

2.      Paragraf Eksposisi
Paragraf Eksposisi merupakan paragraf yang bertujuan untuk memaparkan, menyampaikan informasi, menjelaskan dan juga menerangkan suatu topik  kepada orang lain.  Tujuan paragraf eksposisi ialah untuk memberikan informasi kepada oarang lain. Untuk memahami paragraf eksposisi kita harus mengana lisis dan juga menghubungkan dengan  pengetahuan yang kita miliki.
3.      Paragraf Agumentasi
Paragraf Agumentasi merupakan paragraf yang diguakan untuk mengungkapkan ide, gagasan, ataupun pendapat penulis yang disertai bukti dan juga fakta (yang benar terjadi). Paragraf argumentasi bertujuan untuk meyakinkan orang lain bahwa ide, gagasan, dan pendapat tersebut adalah benar adanya dan terbukti nyata.
4.      Paragraf persuasi
Paragraf persuasi merupakan paragraf yang mempunyai tujuan untuk membujuk orang lain supaya melakuan sesuatu yang di inginkan oleh penulisnya. Agar tujuan tersebut bisa tercapai, penulis harus bisa pembaca percaya dengan disertai pembuktian yang nyata.
Paragraf berdasarkan letak dari pikiran utamanya:
1.      Paragraf deduktif
Paragraf deduktif merupakan paragraf yang kalimat utamanya terlatak di awal paragraf. Dan untuk kalimat penjelasnya diletakkan setelah kalimat utama.
2.      Paragraf induktif
Paragraf induktif merupakan paragraf yang kalimat utamanya terletak diakhir paragraph. Dan kalimat penjelsanya diletakan sebelum kalimat utama.
3.      Paragraf campuran (deduktifinduktif)
Paragraf campuran (deduktifinduktif) merupakan paragraf yang kalimat utamanya terletak di awal dan akhir paragraf. Sedangkan kalimat penjelasnya berada di tengah-tengah paragraf.
D.    Fungsi Paragraf
Adapun fungsi dari pagraf sendiri adalah :
1.      Mengekspresikan gagasan yang tertulis
Maksudnya mengekspresikan gagasan disisni ialah memberikan bentuk suatu pikiran dan juga perasaan ke dalam rangkaian kalimat yang tersusun sehingga membentuk suatu kesatuan.
2.      Untuk  menandai peralihan gagasan baru
Maksudnya sebuah karangan yang terdiri beberapa paragraf memiliki beberapa ide atau gagasan. Dan ide atau gagasan tersebuat teletad di masing masing paragraf. Sehingga jika kita membuat paragraf baru maka kita juga membuat gagasan baru.
3.      Untuk memudahkan menulis dan pembaca
Yakni memudahkan penulis dalam menyusun gagasannya. Dan untuk memudahkan pembaca dalam memahami gagasan dari penulis.
4.      Memudahkan pengembangan topik
Yakni dalam mengembangkan topik sebuah  karangan ke dalam bentuk pemikiran yang lebih kecil.
5.      Untuk memudahkan pengendalian variable

E.     Unsur Unsur Paragraf

Sebuah paragraf dapat dikatakan sebagai paragraf yang baik bila memiliki unsur unsur paragraf. Secara umum terdapat tiga unsur unsur paragraf yaitu ide pokok atau gagasan utama paragraf, kalimat utama paragraf dan terakhir kalimat penjelas paragraf.

Berikut penjelasan singkat tentang unsur unsur paragraf:
1.      Ide Pokok
Ide pokok dalam paragraf adalah hal yang dibahas dalam sebuah paragraf atau yang menjadi dasar dalam pembuatan paragraf tersebut. Lebih simpelnya, ide pokok dalam paragraf harusnya dimulai dengan pertanyaan sebelumnya kepada penulis yaitu “Apa yang ingin saya sampaikan dalam bagian ini” dan “Apakah kalimat yang saya miliki cukup untuk menggambarkan ataupun menjelaskan apa yang saya ingin sampaikan”.
Sebuah ide pokok dalam paragraf dapat ada secara tersurat ataupun tersirat, tergantung keinginan anda atau kebutuhan anda terhadap artikel tersebut. Apabila anda yakin pembaca dapat lebih merasakan kekuatan atau memahami paragraf atau artikel anda dengan membuat ide pokoknya tersirat maka buat ide pokok tersebut tersirat. Namun, bila anda merasa pembaca dan ide pokok ini lebih baiknya dibuat tersurat sehingga mudah memahaminya, maka buatlah paragraf yang ide pokoknya tersurat atau tertulis langsung dalam paragraf tersebut.
Contoh penempatan ide pokok baik tersirat ataupun tersurat dalam sebuah paragraf adalah sebagai berikut:
a.       Untuk menjaga agar subsidi listrik tetap Rp.30 Trilliun sesuai amanat APBN, pemerintah berencana memperluas penerapan TDL nonsubsidi kepada pelanggan bisnis dan rumah tangga hingga ke golongan 1.300 VA. Peluasan tDL nonsubsidi tersebut akan diberlakukan mulai September tahun ini. TDL nonsubsidi saat ini berlaku untuk konsumen golongan 6.600 VA ke atas. TDL nonsubsidi dikenakan pada 20 persen penggunaan diatas rata rata patokan nasional. Konsumen golongan 450 VA hingga 900 VA diusahakan tidak dikenakan TDL.
b.       Setiap hari, Bolas bangun pagi pukul setengah lima. Setelah salat subuh, ia lari pagi di sekitar kampusnya hingga 20 puluh menit. Setelah berolahraga dan keringatnya kering, Bolas mandi. Selanjutnya, Bolas berangkat ke kampus setelah sarapan pagi. Pukul 4 sore, ia kembali ke rumahnya. Sisa waktunya sebagian besar diisi dengan main DOTA. Sebagai selingan Bolas belajar dan menyusun tugas akhirnya.
Ide pokok yang terdapat dalam paragraf pertama berbentuk tersurat yaitu rencana penerapan tarif dasar listrik sedangkan ide pokok paragaraf kedua berbentuk tersirat dengan ide pokok yaitu kegiatan Bolas sehari hari. Kesimpulannya. Ide pokok dalam sebuah paragraf adalah intisari dari paragraf atau kelompok kalimat tersebut dan umumnya sebuah ide pokok berbentuk frasa.
2.      Kalimat Utama Paragraf
Unsur paragraf yang kedua adalah kalimat utama.  Dalam sebuah paragraf terdapat kalimat utama yang berisikan ide pokok atau gagasan utama paragraf tersebut. Lalu apakah ada paragraf yang tidak memiliki kalimat utama? jawabannya ya ada. Sebuah paragraf dapat memiliki ide pokok tanpa adanya kalimat utama contohnya saja ide pokoknya tersirat.
Kalimat utama sebagai unsur paragraf mengindikasikan sebuah paragraf yang baik dalam sebuah teks ataupun artikel. Dengan adanya unsur paragraf ini, maka terdapat tiga jenis paragraf berdasarkan letak kalimat utamanya yaitu (1)paragraf induktif yang memiliki kalimat utama terletak di akhir paragraf; (2) paragraf deduktif yang terletak di awal paragraf dan (3) terakhir paragraf deduktif-induktif yang memiliki kalimat utama di awal dan akhir paragraf.
Lalu bagaimana cara mudah untuk mengetahui jenis paragraf berdasarkan kalimat utamanya ini? Mudah. Bila sebuah paragraf diawali dengan kalimat yang umum kemudian kalimat setelahnya lebih spesifik maka ini merupakan paragraf deduktif. Sedangkan bila paragraf induktif maka awal paragraf akan terlihat detail dan pada akhir paragraf terdapat simpulan dari kalimat kalimat sebelumnya maka ini merupakan jenis paragraf induktif. Lalu bagaimana dengan paragraf induktif-deduktif? Paragraf ini memiliki kalimat utama di awal dan diakhir paragraf. Akan terdapat kalimat utama di awal paragraf dan kemudian di akhir paragraf akan terdapat kalimat utama lagi yang memiliki makna sama dengan awal paragraf walaupun berbeda bentuk kalimatnya.
Oh iya, sebagai tambahan….sebuah kalimat utama dalam paragraf dapat berbentuk kalimat majemuk ataupun kalimat tunggal.


3.      Kalimat Penjelas Paragraf
Unsur ketiga dalam sebuah paragraf adalah kalimat penjelas. Pengertian kalimat penjelas adalah kalimat kalimat yang menjelaskan kalimat utama. Kalimat kalimat penjelas dalam sebuah paragraf seharusnya memiliki kesatuan antara satu dengan yang lain yaitu seluruh kalimat tersebut dapat menyusun sebuah paragraf secara bersama sama menyatakan ide pokok yang diusung.
Unsur kalimat penjelas dalam sebuah paragraf atau seluruh paragraf seharusnya koheren yaitu mempunyai hubungan yang erat sehingga paragraf tersebut utuh. Dalam membentuk koherensi paragraf, dapat dibantu menggunakan kata penghubung ataupun kata acuan yang tepat.

F.     Membuat paragraf yang baik dan benar

Menurut Rosen dan Behrens bahwa sebuah paragraf yang baik dan benar haruslah memenuhi syarat syarat berikut dalam penulisannya yaitu:

  1. Unified atau satu kesatuan. Seluruh kalimat yang menjadi penyusun paragraf haruslah berhubungan dengan ide atau gagasan pokok yang dimaksud.
  2. Clearly related to the thesis, berhubungan dengan apa yang dimaksud: Seluruh kalimat yang ada dalam paragraf tersebut tidak boleh keluar dari ide pokok yang ada atau dengan kata lain harus selalu berhubungan.
  3. Coherent, koherensi: Susunan kalimat yang berada dalam paragraf haruslah tersusun secara logis
  4. Well developed: Setiap ide yang dipaparkan dalam paragraf haruslah dijelaskan dengan baik dengan didukung oleh kalimat kalimat penjelas yang saling bekerja sama dalam menjelaskan ide pokok yang dimaksud.
Kemudian Lois Laase dan Joan Clemmons memberikan beberapa poin penting untuk membuat sebuah paragraf yang baik yaitu:
1.       Memiliki satu topik atau ide pokok
  1. Memiliki kalimat utama
  2. Mempunyai kalimat penjelas atau kalimat pendukung yang memberikan fakta atau penjelasan tentang ide pokok atau gagasan utama tersebut.
  3. Mempunyai kata kata yang jelas (Kecuali tujuan sastra)
  4. Tidak terlalu banyak menggunakan kalimat / Tidak boros kalimat
  5. Menggunakan kalimat atau gabungan kalimat yang logis dan tetap pada topik yang dimaksud.
  6. Antara satu paragraf dan paragraf lain dihubungkan dengan kata penghubung sehingga tercipta koherensi.
  7. Paragraf yang benar secara ejaan dalam penggunaan kata kata pada tiap kalimatnya, tanda bacanya atau punctuation, huruf besarnya dan juga indentasinya.

 

G.    Syarat-Syarat Paragraf

Syarat-Syarat Paragraf yang Baik - Paragraf adalah kumpulan kalimat yang saling berangkai nan padu yang membentuk suatu gagasan utama yang ingin disampaikan oleh pembacanya. Suatu paragraf yang baik harus mencakup beberapa persyaratan sebagai berikut:
1.      Kelengkapan (Completeness)
Paragraf yang baik harus memiliki unsur – unsur paragraf yang lengkap diantaranya adalah:   ,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,
a. Gagasan   utama 
Gagasan utama adalah topik utama atau permasalahan yang sedang dibahas dalam suatu        paragraf.
b. Kalimat    utama
Kalimat utama adalah kalimat yang mengandung gagasan utama. Kalimat ini memaparkan apa yang akan dibahas pada paragraf tersebut. Letak kalimat utama di dalam sebuah paragraf bervariasi ada yang terletak di awal yang disebut dengan paragraf deduktif, di akhir yang disebut paragraf induktif maupun di awal dan akhir yang disebut paragraf campuran.
c. Kalimat    penjelas
Kalimat penjelas adalah kalimat – kalimat yang mendukung gagasan utama. Kalimat penjelas perlu untuk ditulis karena kalimat inilah yang akan memberikan alasan yang kuat pada gagasan utama. Kalimat – kalimat ini harus mengandung data berupa fakta, contoh maupun alasan yang jelas.
2.  Kesatuan (Unity)
Suatu paragraf yang baik juga harus memiliki syarat kesatuan atau unity. Yang dimaksud dengan kesatuan adalah suatu  paragraf harus memiliki satu kesatuan gagasan utama beserta dengan gagasan – gagasan penjelas lainnya. Gagasan – gagasan tersebut dikembangkan dengan saling menghubungkannya satu sama lain dengan suatu kesatuan yang utuh sehingga tidak menyebabakan kalimat sumbang di          dalam  paragraf. 
Dengan kata lain, syarat kesatuan akan terpenuhi jika gagasan utama di dalam paragraf terjalin sangat baik dengan gagasan – gagasan penejelas lainnya dan saling mendukung satu sama lain.  Jika tidak adanya kesatuan di dalam paragraf, maka bisa dipastikan paragraf tersebut tidaklah baik.
3.      Kepaduan (Coherence)
Paragraf yang baik harus memiliki unsur kepaduan di dalamnya. Yang dimaksud dengan kepaduan adalah kalimat – kalimat di dalam paragraf terjalin atau terangkai dengan logis dan serasi. Syarat kepaduan di dalam suatu paragraf terpenuhi dengan menggunakan konjungsi sehingga kalimat – kalimat tersebut menjadi saling berkaitan. 
          Ada dua macam konjungsi yang dapat digunakan di dalam suatu paragraf, diantaranya adalah konjungsi intrakalimat, yaitu konjungsi yang menghubungkan anak kalimat dengan induk kalimat seperti : sehingga, tetapi, karena, agar, dan sebagainya. Serta konjungsi antar kalimat, yaitu konjungsi yang menghubungkan antara kalimat yang satu dengan kalimat lainnya, seperti : oleh karena itu, namun, disamping, bahkan, jadi, kemudian, dan sebagainya.
            Syarat – syarat di atas penting untuk dipenuhi agar suatu paragraf menjadi baik sehingga para pembacanya mudah memahami apa yang sedang dibicarakan atau dibahas dalam paragraf tersebut.

 

Contoh Paragraf

Di bawah ini adalah contoh paragraf yang tidak memenuhi kaidah dan  contoh paragraf yang memnuhi kaidah,sebagai berikut.
Contoh:
          Nasi adalah makanan pokok masyarakat Indonesia. Hampir di setiap daerah di Indonesia mengkonsumsi nasi sebagai makanan sehari – hari. Masyarakat Indonesia bagian timur berbeda. Mereka masih mengkonsumsi sagu sebagai bahan pokoknya. Penggunaan nasi sebagai bahan makanan pokok karena proses penanamannya yang mudah dan cepat. Para petani membutuhkan sawah dan merawatnya selama 6 bulan untuk menghasilkan beras yang akan menjadi nasi. Sekali panen, biasanya petani akan menghasilkan beras yang sangat banyak. Proses penanamannya yang cepat dan mudah, nasi juga memiliki kandungan karbohidrat yang lebih tinggi dibandingkan dengan makanan lainnya. Nasi sangat cocok untuk orang Indonesia yang sangat membutuhkan energi yang banyak untuk mendukung aktivitsnya sehari – hari.  
Paragraf di atas bukanlah paragraf yang baik karena tidak mengandung syarat– syarat yang telah disebutkan di atas. 
Kelengkapan : Unsur ini tidak terpenuhi karena memiliki dua gagasan utama yang saling bertolak belakang yang pertama adalah nasi menjadi bahan makanan pokok bagi hampir seluruh masyarakat Indonesia. Yang kedua adalah masyarakat Indonesia bagian barat mengkonsumsi sagu.
Kesatuan : Gagasan – gasan utama pada paragraf di atas tidak terjalin dengan sangat baik sehingga pembacanya bingung dengan apa yang menjadi topik pembicaraannya. Gagasan – gagasan paragraf di atas juga   tidak    saling   mendukung.
Kepaduan : Kalimat – kalimat di dalam paragraf di atas tidaklah padu karena tidak menggunakan konjungsi sehigga susunannya menjadi tidak   logis. 

Pada kalimat terakhir seharusnya ditambah konjungsi antar kalimat “oleh karena itu” agar menajadi          lebih    padu.  
Setelah memperhatikan paragraf yang buruk di atas, berikut ini adalah paragraf baik yang           memenuhi          kaidah:
Contoh:        
Nasi adalah makanan pokok masyarakat Indonesia. Hampir di setiap daerah di Indonesia mengkonsumsi nasi sebagai makanan sehari – hari. Penggunaan nasi sebagai bahan makanan pokok karena proses penanamannya yang mudah dan cepat. Para petani hanya membutuhkan sawah dan merawatnya selama 6 bulan untuk menghasilkan beras yang akan menjadi nasi. Sekali masa panen, para petani bisa menghasilkan puluhan kwintal beras. Di samping proses penanamannya yang cepat dan mudah, nasi juga memiliki kandungan karbohidrat yang lebih tinggi dibandingkan dengan bahan makanan lainnya. Karbohidrat inilah yang menjadi sumber energi bagi kita. Oleh karena itu, nasi sangatlah cocok untuk orang Indonesia yang sangat membutuhkan energi yang banyak untuk mendukung aktivitsnya sehari – hari. 
H.    Pengertian Penalaran
Penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (pengamatan empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Berdasarkan pengamatan yang sejenis juga akan terbentuk proposisi – proposisi yang sejenis, berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap benar, orang menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui. Proses inilah yang disebut menalar. Dalam penalaran, proposisi yang dijadikan dasar penyimpulan disebut dengan premis (antesedens) dan hasil kesimpulannya disebut dengan konklusi (consequence).





I.       Macam-macam Penalaran
1.      Induktif
Induktif adalah hal khusus menuju hal umum. Ya itu kuncinya “dari yang khusus menuju yang umum. Bila diuraikan, jangan terpatok pada gaya definisi seseorang, coba uraikan sendiri definisi paragraf induktif dengan kata kunci “dari khusus ke umum” tadi. Atau kalau memang malas menguraikan, mari lihat definisi berikut;
Paragraf Induktif adalah paragraf yang dimulai dengan menyebutkan peristiwa-peristiwa yang khusus, untuk menuju kepada kesimpulan umum, yang mencakup semua peristiwa khusus di atas.
Masih kurang puas dengan definisi tersebut? Baiklah karena definisi yang baik disertai dengan batasan dan ciri-cirinya. Kita uraikan ciri-cirinya. Ciri-ciri paragraf induktif dapat diketahui dengan melihat atau membuat sebuah paragraf. Apabila dalam paragraf itu mula-mula menyebutkan peristiwa khusus dan diakhiri dengan kesimpulan berdasar peristiwa khusus tersebut, maka bisa dipastikan anda sedang membaca atau membuat paragraf induktif.
Ciri-ciri Paragraf Induktif
1.       Terlebih dahulu menyebutkan peristiwa-peristiwa khusus
2.       Kemudian, menarik kesimpulan berdasarkan peristiwa-peristiwa khusus
3.       Kesimpulan terdapat di akhir paragraf
4.       Menemukan Kalimat Utama, Gagasan Utama, Kalimat Penjelas, Kalimat utama paragraf induktif terletak di akhir paragraf
5.       Gagasan Utama terdapat pada kalimat utama
6.       Kalimat penjelas terletak sebelum kalimat utama, yakni yang mengungkapkan peristiwa-peristiwa khusus
7.       Kalimat penjelas merupakan kalimat yang mendukung gagasa utama
CONTOH :
-Harimau berdaun telinga berkembang biak dengan melahirkan
-Ikan Paus berdaun telinga berkembang biak dengan melahirkan
Kesimpulan —> Semua hewan yang berdaun telinga berkembang biak dengan melahirkan.

2.      Deduktif
Deduktif adalah contoh suatu paragraf yang dibentuk dari suatu masalah yang bersifat umum, lebih luas. Setelah itu ditarik kesimpulan menjadi suatu masalah yang bersifat khusus atau lebih spesifik. Atau juga dapat diartikan, suatu paragraf yang kalimat utamanya berada di depan paragraf kemudian diikuti oleh kalimat penjelas.
Contoh :
Beberapa tips belajar menjelang Ujian Akhir Nasional. Jangan pernah belajar “dadakan”. Artinya belajar sehari sebelum ujian. Belajarlah muai dari sekarang. Belajar akan efektif kalau belajar kumpulan soal. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menjawab soal-soal di buku kumpulan soal. Mencocokannya, lalu menilainya. Barulah materi yang tidak dikuasai dicari di buku.
Kalimat utama dari paragraph adalah kalimat yang di garis bawahi, dan kalimat itu berada depan paragraf sesuai dengan ciri-ciri dari paragraph deduktif.
a.       Proposisi
       Proposisi adalah pernyataan tentang hubungan yang terdapat di antara subjek dan predikat. Dengan kata lain, proposisi adalah pernyataan yang lengkap dalam bentuk subjek-predikat atau term-term yang membentuk kalimat. Kaliimat Tanya,kalimat perintah, kalimat harapan , dan kalimat inversi tidak dapa disebut proposisi . Hanya kalimat berita yang netral yang dapat disebut proposisi. Tetapi kalimat-kalimat itu dapat dijadikan proposisi apabila diubah bentuknya menjadi kalimat berita yang netral.
Jenis-Jenis Proposi:
Proposisi dapat di pandang dari 4 kriteria, yaitu berdasarkan :

1.      Berdasarkan bentuk, proposisi dapat dibagi menjadi 2, yaitu :
a.       Tunggal adalah proposisi yang terdiri dari satu subjek dan satu predikat atau hanya mengandung satu pernyataan.
Contoh :
-Semua petani harus bekerja keras.
-Setiap pemuda adalah calon pemimpin.
b.      Majemuk atau jamak adalah proposisi yang terdiri dari satu subjek dan lebih dari satu predikat.
Contoh :
-Semua petani harus bekerja keras dan hemat.
-Paman bernyanyi dan menari.
2.      Berdasarkan sifat, proporsis dapat dibagi ke dalam 2 jenis, yaitu:
a.       Kategorial adalah proposisi yang hubungan antara subjek dan predikatnya tidak membutuhkan / memerlukan syarat apapun.
Contoh:
-Semua kursi di ruangan ini pasti berwarna coklat.
-Semua daun pasti berwarna hijau.
b.      Kondisional adalah proposisi yang membutuhkan syarat tertentu di dalam hubungan subjek dan predikatnya. Proposisi dapat dibedakan ke dalam 2 jenis, yaitu: proposisi kondisional hipotesis dan disjungtif.
Contoh proposisi kondisional:
- Jika hari mendung maka akan turun hujan

Contoh proposisi kondisional hipotesis:
-          Jika harga BBM turun maka rakyat akan bergembira.
Contoh proposisi kondisional disjungtif:
-          Cristiano ronaldo pemain bola atau bintang iklan.
3.      Berdasarkan kualitas, proposisi juga dapat dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu:
a.       Positif(afirmatif) adalah proposisi yang membenarkan adanya persesuaian hubungan antar subjek dan predikat.
      Contoh:
                  - Semua dokter adalah orang pintar.
                  - Sebagian manusia adalah bersifat sosial.
b.      Negatif adalah proposisi yang menyatakan bahawa antara subjek dan predikat tidak mempunyai hubungan.
          Contoh:
- Semua harimau bukanlah singa.
- Tidak ada seorang lelaki pun yang mengenakan rok.
4.      Berdasarkan kuantitas., proposisi dapat dibedakan ke dalam 2 jenis, yaitu:
a.         Umum adalah predikat proposisi membenarkan atau mengingkari seluruh subjek.
Contoh:
- Semua gajah bukanlah kera.
- Tidak seekor gajah pun adalah kera.
b.        Khusus adalah predikat proposisi hanya membenarkan atau mengingkari sebagian subjeknya.
Contoh:
-          Sebagian mahasiswa gemar olahraga.
-          Tidak semua mahasiswa pandai bernyanyi.
b.Premis
Ialah pernyataan yang digunakan sebagai dasar penarikan kesimpulan. Merupakan kesimpulan yang ditarik berdasarkan premis mayor dan premis minor. Subjek pada kesimpulan itu merupakan term minor. Term menengah menghubungkan term mayor dengan term minor dan tidak boleh terdapat pada kesimpulan. Perlu diketahui, term ialah suatu kata atau kelompok kata yang menempati fungsi subjek (S) atau predikat (P).
Contoh:
- Semua cendekiawan adalah manusia pemikir
- Semua ahli filsafat adalah cendekiawan
- Semua ahli filsafat adalah manusia pemikir.
c.       Kopula
Kopula ialah kata yang menghubungkan subjek dan predikat. Sering kali proposisi memiliki pembilang yang mengacu kepada kuantitas subjek.
Contoh:
“Semua manusia adalah fana”
Semua = pembilang
Manusia = subjek
Adalah = kopela
Fana = predikat

d.      Konklusi atau Inferensi
Penarikan konklusi atau inferensi ialah proses mendapatkan suatu proposisi yang ditarik dari satu atau lebih proposisi, sedangkan proposisi yang diperoleh harus dibenarkan oleh proposisi (proposisi) tempat menariknya. Proposisi yang diperoleh itu disebut konklusi.
Penarikan suatu konklusi dilakukan atas lebih dari satu proposisi dan jika dinyatakan dalam bahasa disebut argumen. Proposisi yang digunakan untuk menarik proposisi baru disebutpremis sedangkan proposisi yang ditarik dari premis disebut konklusi atau inferensi.
Penarikan konklusi ini dilakukan denga dua cara yaitu induktif dan deduktif. Pada induktif, konklusi harus lebih umum dari premis (premisnya), sedangkan pada deduktif, konklusi tidak mungkin lebih umum sifatnya dari premis (premisnya). Atau dengan pengertian yang popular, penarikan konklusi yang induktif merupakan hasil berfikir dari soal-soal yang khusus membawanya kepada kesimpulan-kesimpulan yang umum. Sebaliknya, penarikan konklusi yang deduktif yaitu hasil proses berfikir dari soal-soal yang umum kepada kesimpulan-kesimpulan yang khusus.
Penarikan suatu konklusi deduktif dapat dilakukan denga dua cara yaitu secara langsung dan tidak langsung. Penarikan konklusi secara langsung dilakukan jika premisnya hanya satu buah. Konklusi langsung ini sifatnya menerangkan arti proposisi itu. Karena sifatnya deduktif, konklusi yang dihasilkannya tidak dapat lebih umum sifatnya dari premisnya. Penarikan konklusi secara tidak langsung terjadi jika proposisi atau premisnya lebih dari satu.
1.      MENARIK SIMPULAN SECARA LANGSUNG
Penarikan secara langsung ditarik dari satu premis.
Contoh kalimat :
Ban motor Ani pecah sedangkan ani besok ingin pergi ke kampus, tetapi ani tidak mempunyai uang untuk mengganti ban motor.
Kesimpulan : Ani besok tidak pergi ke kampus karena ban motornya pecah.


2.      MENARIK SIMPULAN SECARA TIDAK LANGSUNG
Penarikan ini ditarik dari dua premis. Premis pertama adalah premis yang bersifat umum, sedangkan yang kedua adalah yang bersifat khusus.
Contoh:
A : Anak-anak begitu gembira ketika ibu memberikan bekal makanan.
B : Sayang gudegnya agak sedikit saya bawa.
Inferensi yang menjembatani kedua ucapan tersebut misalnya (C) berikut ini.
C : Bekal yang dibawa ibu lauknya gudek komplit.oh:

e.       Evidensi
Adalah semua fakta yang ada, yang dihubung-hubungkan untuk membuktikan adanya sesuatu. Evidensi merupakan hasil pengukuan dan pengamatan fisik yang digunakan untuk memahami suatu fenomena. Evidensi sering juga disebut bukti empiris. Akan tetapi pengertian evidensi ini sulit untuk ditentukan secara pasti, meskipun petunjuk kepadanya tidak dapat dihindarkan.
Kita mungkin mengartikannya sebagai “cara bagaimana kenyataan hadir” atau perwujudan dari ada bagi akal”. Misal Mr.A mengatakan “Dengan pasti ada 301.614 ikan di bengawan solo”, apa komentar kita ? Tentu saja kita tidak hanya mengangguk dan mengatakan “fakta yang menarik”. Kita akan mengernyitkan dahi terhadap keberanian orang itu untuk berkata demikian.
Tentu saja reaksi kita tidak dapat dilukiskan sebagai “kepastian”, Tentu saja kemungkinan untuk benar tidak dapat di kesampingkan, bahwa dugaan ngawur atau ngasal telah menyatakan jumlah yang persis. Tetapi tidak terlalu sulit bagi kita untuk menangguhkan persetujuan kita mengapa ? Karena evidensi memadai untuk menjamin persetujuan jelaslah tidak ada. Kenyataannya tidak ada dalam persetujuan terhadap pernyataan tersebut.
Sebaliknya, kalau seorang mengatakan mengenai ruang di mana saya duduk, “Ada tiga jendela di dalam ruang ini,” persetujuan atau ketidak setujuan saya segera jelas. Dalam hal ini evidensi yang menjamin persetujuan saya dengan mudah didapatkan.
Dalam wujud yang paling rendah. Evidensi itu berbentuk data atau informasi. Yang di maksud dengan data atau informasi adalah bahan keterangan yang di peroleh dari suatu sumber tertentu.
Cara menguji data :
Data dan informasi yang di gunakan dalam penalaran harus merupakan fakta. Oleh karena itu perlu diadakan pengujian melalui cara-cara tertentu sehingga bahan-bahan yang merupakan fakta itu siap di gunakan sebagai evidensi.
Di bawah ini beberapa cara yang dapat di gunakan untuk pengujian tersebut.
1.      Observasi
2.      Kesaksian
3.      Autoritas
Cara menguji fakta
Untuk menetapkan apakah data atau informasi yang kita peroleh itu merupakan fakta, maka harus diadakan penilaian. Penilaian tersebut baru merupakan penilitian tingkat pertama untuk mendapatkan keyakinan bahwa semua bahan itu adalah fakta, sesudah itu pengarang atau penulis harus mengadakan penilaian tingkat kedua yaitu dari semua fakta tersebut dapat digunakan sehingga benar-benar memperkuat kesimpulan yang akan diambil. Apakah itu dalam bentuk Konsistensi atau Koherensi.
f.       Implikasi
Implikasi diwujudkan dengan pernyataan “jika-maka” atau juga “if-then“. Implikasi adalah suatu pernyataan logika yang hanya akan bernilai salah ketika sebab bernilai benar DAN akibat bernilai salah.
Contoh:“Jika lampu merah menyala maka kendaraan bermotor akan berhenti”
Kalimat diatas tidak akan sama dengan :
“Jika kendaraan bermotor berhenti maka lampu merah menyala”

g.      Term
Term adalah suatu kata atau suatu kumpulan kata yang merupakan ekspressi verbal dari suatu pengertian.
1. Bagian dari proposisi yang berfungsi sebagai subyek atau predikat, serta dapat berfungsi sebagai penghubung antara dua proposisi yang disebut premis dalam sebuah silogisme.
2. Tidak semua kata atau kumpulan kata adalah term, meskipun setiap term itu adalah kata atau kumpulan kata. Alasannya: tidak semua kata atau kumpulan kata pada dirinya sendiri merupakan ekspressi verbal dari pengertian, dan bahwa tidak semua kata pada dirinya sendiri berfungsi sebagai subyek atau predikat dalam suatu proposisi.
3. Term adalah kata atau sejumlah kata yang dapat berdiri sendiri. Jenis kata seperti itu disebut kata kategorimatis. Mis. : bunga, burung, pohon (term tunggal), orang tua asuh, pencinta lingkungan hidup (term majemuk).
4. Ada jenis kata yang tidak bisa berdiri sendiri, baik sebagai subyek maupun predikat. Ini disebut kata sinkategorimatis. Mis. : tetapi, beberapa, karena, dengan cepat. Pada dirinya sendiri kata-kata ini tidak merupakan ekspressi verbal dari pengertian, dan karena itu tidak merupakan term.
5. Kata-kata sinkategorimatis itu selalu tergantung pada kata-kata kategorimatis untuk membentuk sebuah term. Ump.: kata “berjalan” (kategorimatis, term), “dengan cepat” (sinkategorimatis, bukan term). Tapi “berjalan dengan cepat” mengungkapkan suatu pengertian baru, dan karena itu dapat berfungsi sebagai term dalam sebuah proposisi.
Jenis-jenis Term
a.      Dalam kaitan dengan pengertian (arti yang dikandungnya)
-          Term Univok (satu kata, satu pengertian) : karyawan, pelanggan, guru, manager.
-          Term Ekuivok (satu kata, lebih dari satu pengertian): genting, bulan, bait, pasar.
-          Term Analog (satu kata, pengertian bisa sama bisa berbeda): ada, suap, sehat.
b.      Dalam kaitan dengan jumlah kata
-          Term Tunggal : gunung, manusia, kejahatan.
-          Term Majemuk : Kereta api, lapangan sepak bola, CEO, TQM, BKIA, KPKPN.
c.       Term ditinjau dari luasnya
-          Term Singular: mengatakan tentang satu hal tertentu
-          Term Partikular: mengatakan tentang sebagian
-          Term universal: mengatakan tentang seluruh luasnya.
d.      Berdasarkan sifatnya
-          Term Distributif: berlaku untuk setiap anggota
-          Term Kolektif: berlaku pada sesuatu sebagai satu kesatuan
e.       Berdasarkan fungsinya dalam proposisi dan silogisme
-            Term subyek
-            Term predikat
-            Term menengah / terminus medius

J.       Metode-metode Penalaran
1.      Deduktif
            Metode berpikir deduktif adalah suatu metode berpikir yang menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagian yang khusus. Hal ini adalah suatu sistem penyusunan fakta yang telah diketahui sebelumnya guna mencapai suatu kesimpulan yang logis. Dalam penalaran deduktif, dilakukan melalui serangkaian pernyataan yang disebut silogisme dan terdiri atas beberapa unsur yaitu:
a.       Dasar pemikiran utama (premis mayor)
b.      Dasar pemikiran kedua (premis minor)
c.       Kesimpulan
Contoh:
Premis mayor: Semua siswa SMA kelas X wajib mengikuti pelajaran Sosiologi.
Premis minor: Bob adalah siswa kelas X SMA
Kesimpulan: Bob wajib mengikuti jam pelajaran Sosiologi
2.      Induktif
            Metode berpikir induktif adalah metode yang digunakan dalam berpikir dengan bertolak dari hal-hal yang bersifat khusus untuk menentukan kesimpulan yang bersifat umum. Dalam penalaran induktif ini, kesimpulan ditarik dari sekumpulan fakta peristiwa atau pernyataan yang bersifat umum.
Contoh:
Bukti 1: logam 1 apabila dipanaskan akan memuai
Bukti 2: logam 2 apabila dipanaskan akan memuai
Bukti 3: logam 3 apabila dipanaskan akan memuai
Kesimpulan: Semua logam apabila dipanaskan akan memuai.


3.      Pendekatan Ilmiah (Gabungan antara Deduktif dan Induktif)
            Metode berpikir pendekatan ilmiah adalah penalaran yang menggabungkan cara berpikir deduktif dengan cara berpikir induktif. Dalam pendekatan ilmiah, penalaran disertai dengan suatu hipotesis.
            Misalkan seorang siswa yang apabila sebelum berangkat sekolah telah sarapan terlebih dahulu dalam porsi yang banyak, dia tidak akan kelaparan hingga jam pelajaran berakhir. Secara deduktif, akan disimpulkan bahwa setiap anak yang makan banyak tidak akan cepat lapar.
            Untuk menjawab kasus seperti ini, kita ajukan pertanyaan mengapa seorang siswa cepat lapar? Untuk itu, kita ajukan hipotesis bahwa siswa akan cepat lapar jika makanan yang dimakan kurang memenuhi standar gizi dan energi yang dihasilkan oleh makanan tersebut sedikit. Kemudian secara induktif  kita uji untuk mengetahui apakah hasil pengujian mendukung atau tidak mendukung hipotesis yang diajukan tersebut.






























BAB III
PENUTUP

A.  Kesimpulan
Dari pembahasan ini dapat kami tarik kesimpulan bahwa paragraf adalah kumpulan kalimat yang saling berkaitan dan hanya memiliki satu tema kemudian terdapat didalamnya kalimat utama dan kalimat penjelas.
Diantara tujuan penggunaan paragraf adalah memudahkan pengertian dan pemahaman dengan menceraikan suatu tema dengan tema yang lain. tujuan lainnya adalah memisahkan dan menegaskan perhentian secara wajar dan formal, untuk memungkinkan kita berhenti lebih lama daripada perhentian kalimat terakhir.
Ada banyak jenis-jenis paragraf yang dapat kita pelajari antara lain paragraf pembuka, paragraf penghubung, paragraf  penutup, dan paragraf merata. Kemudian berdasarkan kalimat utamanya dapat dibedakan menjadi tiga, deduktif, induktif dan campuran.
Penalaran adalah proses berpikir untuk menarik kesimpulan dari kalimat yang dibaca. Dalam penalaran dibagi dua yaitu secara deduktif dan induktif.Penalaran juga mempunyai beberapa metode.
B.  Saran
Kami menyadari bahwa makalah ini tentunya masih banyak terdapat kekurangan, kekeliruan dan kesalahan. Oleh karena itu kami harapkan kritik dan saran dari pembaca sekalian yang sifatnya membangun, demi menuju kesempurnaan makalah-makalah kami yang akan datang. Atas kritik dan saran saudara kami ucapkan terimakasih.
                 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar